Posted by: tsdipura | January 8, 2018

Coal Drying pake superheated steam dari RDE?

Menurunkan kadar air pada batu bara memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap kualitas batubara juga efektifitas pembakaran. Di sisi lain, Reaktor Daya Eksperimental (RDE) akan menghasilkan superheated steam dengan temperature ~520 derajat celcius.

Superheated steam (dari RDE) + coal drying, apa jadinya ??

Hmm…ternyata memang ada teknologi Superheated Steam Drying (SSD), yaitu proses pengeringan menggunakan uap superheated. Lalu aplikasi SSD untuk upgrading coal juga bukan hal yang aneh…meskipun untuk uap superheated hingga temperatur ~520 derajat celcius mungkin belum ada.

Dari belantara dunia maya sy dapat makalah  Upgrading the Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM , yg ternyata ditulis oleh Prof.Aryadi Suwono dari Teknik Mesin ITB (belok dikit,…akhir tahun lalu sy br aja ngikutin seminar ICTST2017, sbg apresiasi terhadap kiprah Beliau). Read More…

Advertisements
Posted by: tsdipura | January 5, 2018

Potensi Coal-Drying pake Teknologi RDE?…a glance

Reaktor Daya Eksperimental atau singkatnya RDE selain menghasilkan listrik juga memiliki potensi kogenerasi. Potensi ini tidak lain karena output uap panas dari pembangkit uap RDE memiliki temperature sekitar 520 derajat celcius.

Diantara banyak aplikasinya, salah satu yg sangat cocok dengan kondisi Indonesia yang sangat kaya dengan batubara adalah coal-upgrading, yap menambah kualitas batubara melimpah di tanah negeri ini. Ada coal liquefaction, coal gasification, namun yg mau dibahas singkat pada postingan ini adalah potensi upgrading yang mungkin jauh lebih sederhana dari kedua proses itu yaitu coal-drying. Ya, dengan proses coal-drying agar batubara menjadi lebih kering karena kandungan airnya berkurang. Postingan ini terdorong oleh dua literature yg baru sy baca hari ini terkait topic ini, jadii sy sendiri masih sangat newbie ttg hal ini, dua literature ini sy baca gara2 obrolan segar penuh ide di kantor pagi tadi. Tapiii, ide coal-drying sdh sy dengar menjelang launching desain dasar RDE dari salah satu partner konsorsium HTGR kita ketika bicara tentang ide2 pemanfaatan uap panas dari RDE.

Dari yg sy baca, perubahan komposisi penyusun batubara dengan merubah kandungan airnya dapat ditunjukkan pada gambar dibawah (diolah dari Referensi Tiongkok 2015).

Presentation1 Read More…

Posted by: tsdipura | January 4, 2018

Capaian Indeks Google Scholar dan SCOPUS di 2017

Sebagai orang yang berkarir di bidang penelitian, sy harus menerima dan siap dengan aturan2 mainnya. Diantara aturan tersebut adalah ‘bagaimana kita dinilai’. Naah, salah duanya adalah Indeks Google Scholar dan SCOPUS. Tentu ini bukan satu-satunya parameter dalam menilai kesuksesan kita, tp itu tadi kita, harus legowo menerima aturan main di dunia yg kita berkiprah didalamnya dan klo sy liat parameter yang ditunjukkan oleh kedua indeks ini harus sy akui bahwa performa sy sebagai peneliti masih sangat perlu ditingkatkan kedepan, masih banyak PR improvement yg harus dikerjakan.

Kita mulai dengan Indeks Google Scholar. (lengkapnya bisa dilihat disini ). Performa sy dapat dilihat dari table yg dihasilkan oleh mesin google berikut

Read More…

Posted by: tsdipura | December 31, 2017

China dan reactor cepat nya

Di akhir tahun 2017, ada berita luar biasa dr negeri tiongkok. Hmm tentu tidak se heboh berita2 para selebritis baik dunia hiburan ataupun dunia politik saat ini…tp sy yakin suatu saat teknologi ini akan sangat berperan penting, yaitu teknologi Fast Nuclear Reactor atau Reaktor Nuklir Cepat. Tipe reactor yang ada hingga saat ini secara komersial adalah reactor termal. Cepat atau termal yang dimaksud dalam nama itu adalah tipe neutron yang dominan dimanfaatkan untuk berfisi dalam desain reactor nuklir tersebut. Reaktor termal mengandalkan neutron termal dgn energi rerata sekitar 1 eV), sedangkan reactor cepat mengandalkan neutron cepat energi yang jauh lebih besar. Saat lahir di teras reactor, neutron lahir dengan energi yang besar sehingga dikatagorikan neutron cepat. Oleh karena itu, pada reactor termal harus ada moderator yang fungsinya menurunkan energi neutron dengan cara bertumbukan dengan atom-atom moderator tersebut.

OK, kembali ke berita dari tiongkok berikut: China begins building pilot fast reactors.

Reaktor cepat pilot yang dimaksud diatas, dinamai CFR-600 memiliki daya 600MWe (1500MWt) dibangun oleh China Institute of Atomic Energy, dengan teknologi desain sodium-cooled pool-type. Menggunakan bahan bakar mixed-oxide (MOX) dengan target derajat bakar 100GWd/t, dan akan menghasilkan uap dengan temperature 480 derajat celcius.   Sementara ini mereka mentargetkan desain komersial CFR-1000 dengan daya 1000-1200MWe yang akan mereka putuskan di 2020.

CEFR_(CNNC)

Chinese Experimental Fast Reactor (CEFR)

Read More…

Posted by: tsdipura | December 20, 2017

Kerntechnik 2017…isu awal dan akhir.

Alhamdulillah tahun 2017 ini bs dua kali tembus di Jurnal Kerntechnik. Hmm..ok, iya siih Kerntechnik hanya Q2 tahun ini, tp bagi sy lumayan bias tembus dua kali, sebagai co-author dan main author.

Pertama, di isu pertama tahun 2017 sebagai co-author:

Link: https://doi.org/10.3139/124.110628 Read More…

Posted by: tsdipura | December 18, 2017

ECADIN #7 OnlineSharing: Menuju PLTN Pertama di Tanah Air

Kang Iging, senior di Fisika ITB yg studi di Belanda dan sampe sekarang masih disana, menginisiasi Energy Academy Indonesia (ECADIN, https://www.ecadin.org/ ). Sy tentunya sangat mendukung inisiasi yang secara umum memberi pencerahan tentang energy di tanah air ini. Eh..tiba2 beliau kontak dan menawari ngisi Knowledge Sharing mereka, hmm dengan segala kerendahan hati sy sambut tawaran tersebut, padahal klo liat pembicara2 sebelumnya kayaknya sy belum sampe di maqom itu hehe. Read More…

Posted by: tsdipura | October 21, 2017

Efek power peaking desain PBR OTTO

Sebagaimana dibahas sebelumnya, salah satu skema pengaturan bahan bakar pada Pebble Bed Reactor (PBR) adalah Once-Through-Then-Out (OTTO). Skema ini lebih sederhana dibandingkan dengan skema multi-pass yang lebih standar digunakan.

Nah, di ICONETS2017 ini, makalah yang saya sampaikan adalah hasil dari investigasi untuk mempelajari secara kuantitatif fenomena power peaking pada desain OTTO. Makalah ini dijuduli Power Peaking Effect of OTTO Fuel Scheme Pebble Bed Reactor.

Berikut abstrak dari makalah diatas

Abstract. Pebble Bed Reactor (PBR) type of Hight Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR) is a very interesting nuclear reactor design to fulfill the growing electricity and heat demand with a superior passive safety features. Effort to introduce the PBR design to the market can be strengthen by simplifying its system with the Once-through-then-out (OTTO) cycle PBR in which the pebble fuel only pass the core once. Important challenge in the OTTO fuel  scheme is the power peaking effect which limit the maximum nominal power or burnup of the design. Parametric survey is perform in this study to investigate the contribution of different design parameters to power peaking effect of OTTO cycle PBR. PEBBED code is utilized in this study to perform the equilibrium PBR core analysis for different design parameter and fuel scheme. The parameters include its core diameter, height-per-diameter (H/D), power density, and core nominal power. Results of this study show that diameter and H/D effects are stronger compare to the power density and nominal core power. Results of this study might become an importance guidance for design optimization of OTTO fuel scheme PBR. Keywords: pebble bed reactor, once-through-then-out, power peaking effect

Aplikasi skema OTTO menarik karena berarti kita tidak harus ‘sibuk’ dengan resirkulasi bahan bakar ke teras kembali yang tentunya harus menambah komponen plus juga monitoringnya. Tantangan utama dari aplikasi skema OTTO adalah power peaking effect yaitu terjadinya peningkatan nilai rasio antara rapat-daya-maksimum dan rapat-daya-rerata. Karena teras reactor hanya dimasuki oleh bahan bakar bola yang segar (fresh) maka terjadi puncak rapat daya di bagian atas teras. Adanya puncak rapat daya yang tinggi ini tentunya tidak diinginkan dari sisi desain karena akan membatasi daya optimum desain PBR OTTO yang berujung pada tidak  ekonomisnya desain PBR OTTO. Pada penelitian ini, kita coba melihat bagaimana dampak pengurangan sirkulasi bahan bakar (terutama dari 10-pass ke satu-pass atau OTTO) dari desain teras dengan berbagai parameter geometri berbeda.

Nah..dari investigasi ini kita dapati pola bahwa diameter teras juga rasio tinggi-per-diameter (H/D) berpengaruh sangat signifikan terhadap power peaking effek, sedangkan parameter lain, misalnya rapat daya rerata tidak terlalu signifikan terhadap power peaking effek.

Kedepan, hasil dr investigasi ini dapat bermanfaat dalam melakukan desain pebble bed reactor dengan skema OTTO, sehingga didapat reactor PBR OTTO dengan daya optimum dengan tetap menjaga fitur keselamatan.

Posted by: tsdipura | October 15, 2017

Tim Desain di Unhas Makassar…yeay.

Di acara ICONETS2017…selain sy sebagai Ketua Tim diberi panggung sebagai keynote untuk cerita Desain RDE dan kerja tim, Tim Desain RDE juga diberi jatah ‘pojokan’ untuk nampilkan poster2 promosi RDE.

Alhamdulillah banyak pengunjung yg tertarik, dan berikut jepretan2 dokumentasinya termasuk kegiatan para anggota tim makassar.

Posted by: tsdipura | October 14, 2017

Nge-keynote di ICONETS2017

Di ICONETS2017 ini sy gabung di bagian Acara atau Persidangan…setelah berbagai dinamika seminar yang seperti biasanya banyak perubahan baik dari para peserta presenter, presenter poster, sponsor, juga sekaligus sponsor yang memang tampil sebagai salah satu keynote acara….akhirnya somehow sy diminta jd salah satu  keynote di ICONETS 2017 ini. Hmm…Siap! …ini tampaknya jadi lanjutan dari strategi kampanye RDE yang sudah digebrak dengan launching desain dasar RDE September lalu dengan harapan makin banyak support bg kelanjutan program RDE kedepan. Jadi deh, foto sy nebeng di salah satu halaman web iconets ini.

Di hari-H, tepatnya di Sidang Pleno sesi ke-2 sy sampaikan presentasi dengan tajuk Design Dev. of RDE Merah Putih . Deg degan juga…sy giliran terakhir setelah Prof. dari Jepang ttg robot, dari PT. Timah tentang logam Tanah jarang, juga Frederik Reitsma dari IAEA ttg Pengembangan HTGR yang dikoordinasi oleh IAEA. Ama Om Reitsma sbnrnya sdh akrab dan sering berinteraksi selama ini…jd lumayan bantu tambah PD.

This slideshow requires JavaScript.

Atas woro2 Bu Dr. Geni Rina sebagai moderator…ada beberapa tanggapan positif dan juga pertanyaan dari audience, sebagian sy jawab dan sebagian sy minta bantuan salah satu anggota Tim Desain, yaitu Pak Khairul Handono, untuk menjelaskan pertanyaan terkait desain dan komponen elektrik RDE.

 

 

 

 

 

Posted by: tsdipura | October 14, 2017

Berkawan dengan Sang Penghancur

Hmm…judul nya lumayan ngeri ya, tp itu tema yang disepakati temen2 mahasiswa Teknik Mesin Univ. Mercubuana yang ngundang sy jd pembicara diacara tahunan mereka. Secara umum tugas sy adalah kampanye tentang PLTN dan pemanfaatannya di Tanah air sebagaimana mereka tulis di TOR acara, dan seperti biasa sy sambungkan dengan penjelasan tentang RDE sebagai strategi menuju PLTN di Tanah Air. Nah, begini woro-woro mereka tentang acara ini

IMG-20170908-WA0013 Read More…

Older Posts »

Categories