Sebagai bagian dari efek launching Basic Engineering Design RDE 28 September 2017 lalu adalah liputan media. Salah satu media nasional, Majalah TEMPO, meminta waktu khusus untuk wawancara. Oh ya, selain sy majalah TEMPO juga mewawancarai Pak Djarot Ka. BATAN juga rekan dari BAPETEN.

Judul artikel di majalahnya cukup bombastis: Reaktor Nuklir Rancangan Sendiri. Namun tentunya perjuangan belum selesai, rancangan yg launching bbrp hari lalu baru Basic Engineering Design (BED), masih harus dilanjutkan ke Detail Engineering Design (DED)…dan sebagaimana sering kita dengar ‘the devil is the detail’, tebing curam learning curve untuk menjadi technology provider PLTN nya masih menunggu untuk dilalui. Well, setidaknya ke-bombastisan berita ini harus kita jadikan pemompa semangat untuk dapat mentuntaskan misi awal untuk melahirkan desain reaktor nuklir rancangan sendiri…insyaAllah!

Dan akhirnya terbitlah artikel berikut di Majalah TEMPO: Read More…

Advertisements
Posted by: tsdipura | September 28, 2017

Launching Desain Dasar RDE…horee

Tahun 2015, sebagai bagaian dari Program Reaktor Daya Eksperimental (RDE), BATAN telah mendapatkan Desain Konsep RDE. Untuk dapat berlanjut pada tahap selanjutnya, secara fase desain maka diperlukan Desain Dasar RDE. Dengan berbagai kondisi yang dihadapi BATAN saat itu, akhirnya diputuskan untuk membentuk Tim Desain RDE internal yang terdiri dari 31 orang dari berbagai unit di BATAN dengan berbagai kompetensi sebagaimana ditunjukkan pada foto dibawah.

Slide3

Read More…

Posted by: tsdipura | August 26, 2017

Semalam di Melia Purosani Yogya

Sebagai persiapan BAPETEN dalam proses perizinan RDE, diadakanlah workshop dimana BAPETEN bekerjasama dengan IAEA. Mewakili PTKRN dan Tim Desain sy diundang untuk hadir selama acara dari 21-25 Agustus 2017, tp mengingat target2 lain sy hanya dapat hadir hari rabu 23 agustus dijadwal presentasi sy. Sy ditugaskan menyampaikan status desain RDE hingga saat ini, mengingat tahap selanjutnya dalam proses perizinan adalah PERSETUJUAN DESAIN dari BAPETEN.

Karena kita sedang menyiapkan kolaborasi dengan berbagai pihak maka kesempatan sehari ke Jogya sy manfaatkan untuk bs ketemu dengan Pak Deen Darlianto dari Pusat Kajian Energi UGM…senior luar biasa yg memang sdh akrab sebelumnya. Alhamdulillah beliau OK, jemput malam itu di bandara dan langsung ngajak ngobrol dan ngopi di mall yg masih buka  menuju hotel…obrolan singkat tp Alhamdulillah beliau sambut keinginan untuk berkolaborasi bersama di Program RDE, plus tentunya didahului dengan ide2 tentang bagaimana mengkampanyekan program ini. Beliau yang sekalian ngajar putra dan putrinya lanjut nganter ke hotel Melia Purosani, matur nuwun senior.

Read More…

Posted by: tsdipura | December 3, 2016

Belajar apa sebulan di tiongkok?

Setelah melakukan training melalui pendanaan Riset-Pro selama kurang lebih satu bulan di INET Tsinghua University dan CNEC Tiongkok, kami diminta untuk melakukan presentasi yang isinya kurang lebih lesson learn, ya apa yang sudah kita pelajari. Akhirnya terjadwal (klo gak salah..hehe, tgl dipresentasi kayaknya salah) 23 November 2016 di PTBGN Ps. Jumat, tim harus presentasi ke Pimpinan dan rekan2 BATAN lainnya.

Kami bersepuluh yang Alhamdulillah diberi kesempatan belajar ini kembali kumpul dan berdiskusi, dan akhirnya kami sepakati judul presentasi kami dan sy diminta mewakili temen2 menyampaikan presentasi tersebut. Presentasi ini kami beri judul Pantaskah China menjadi rujukan teknologi HTGR? Bagaimana caranya?

Intinya, kami mencoba memaparkan apa yang kami simpulkan berupa 4 hal yang harus dimiliki agar dapat menjadi Center of Excellence (COE) atau pusat unggulan HTGR. Lalu melihat seberapa jauh Tiongkok telah mencapai 4 hal ini. Dan, yang mungkin paling penting dan terkait erat dengan program RDE yang menjadi main-job kita saat ini adalah bagaimana kita bs memiliki 4 faktor tersebut?

Dari simpulan kami, empat faktor itu adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan dan pengalaman melakukan desain. Mencakup pengembangan tools untuk desain dan fasilitas uji, dan tentunya desain dari system HTGR itu sendiri. [ fisika reaktor, i&c, electrical, dll.]
  2. Kemampuan dan pengalaman melakukan konstruksi dan manufaktur komponen penting.
  3. Kemampuan desain, fabrikasi, dan uji bahan bakar HTGR (TRISO-based fuel).
  4. Kemampuan melakukan komersialisasi. Hal ini merupakan lanjutan dari proses desain di awal dengan melakukan optimasi desain terutama memasukan aspek ekonomi.

Tiongkok sendiri kami nilai telah memiliki point 1-3 dengan program HTR-10 mereka, dan dalam kesempatan sebulan disana kita mendapat banyak pelajaran dari program ini. Dan saat ini mereka sedang menjalani proses untuk melengkapi point ke-4 melalui Program HTR-PM yang diikuti dengan HTR-600 mereka. Kami pun mendapat banyak info tentang program HTR-PM mereka, terlebih SDM muda yang kami temui disana umumnya adalah penggiat langsung dari program HTR-PM ini. Dan kita pun sangat beruntung karena diberi kesempatan masuk ke gedung reaktor HTR-PM yang sedang in progress bahkan sempet liat isi dari bakal teras reaktor HTR-PM yang tentunya saat itu masih kosong.

Lalu bagaimana kita mencapai hal diatas? berikut rekomendasi kita:

Secara bertahap, penuhi syarat2 menjadi COE HTGR (4 point diatas: lakukan desain dst, dst). Dengan beberapa catatan penting berikut:

  1. pengalaman membangun adalah pengungkit yang sangat penting bagi terpenuhinya faktor yang lain.
  2. dengan kondisi saat ini, mulai membangun RDE berdasarkan desain HTR-10.
  3. dalam prosesnya, membangun kapabilitas lainnya.
  4. Peluang komersialisasi dengan ‘ukuran daya’ yang lebih kecil.
  5. Membangun sinergi dengan pihak lain: industri dan perguan tinggi.

Ok, semoga bs dijalani,…insyaAllah.

 

 

Posted by: tsdipura | November 30, 2016

Di tapak HTR-PM

Bagi sy, ini kali kedua mendatangi tapak HTR-PM. Kedatangan pertama bebrapa bulan lalu kami hanya diizinkan lewat menelusuri tapak HTR-PM tanpa masuk ke gedung manapun kecuali gedung diklat dimana disitu terdapat Training Simulator. Selama disana beberapa kali kita diwarning gak boleh ambil foto dan memang gak bs masuk ke gedung2 itu yg masih rahasia…datte.

Naah dikunjungan kedua ini, out of my surprise, hehe ternyata kita diizinkan masuk ke gedung reactor dan gedung auxiliary yang ada di sebelahnya, bahkan kita diizinkan nyampe ke ruangan sehingga bs liat ke teras reactor (masih kosong siih), beberapa bulan sebelumnya reactor pressure vessel ini baru di install sebagaiman info berikut.  Juga dizinkan foto2, berikut diantara fotonya.

Oh ya, klo dikunjungan pertama kita disambut makan siang special (resmi dengan makanan yg keluar secara berurutan sesuai manner mereka)…sedangkan yg kedua gak ada hehe, ada trade-off lah.

HTRPM_1

( diatas salah satu teras HTR-PM, baru ada reactor pressure vessel dan reflector belum ada bahan bakar nya)

HTRPM_2

( membelakangi Gedung Reaktor HTR-PM, kanan-kiri gedung ini ada dua modul HTR-PM, dibelakangnya lagi ada gedung turbin).

Posted by: tsdipura | November 30, 2016

Workshop Desain Teras Pebble Bed Reactor

Berawal dari usulan ke Ganjar [mahasiswa bimbingan dari UGM yang juga menjabat jadi Ketua Komunitas Muda Nuklir (KOMMUN)], klo sosialisasi selain ceramah tentang reactor nuklir atau secara spesifik RDE sebaiknya juga membekali temen-temen muda nuklir dengan kemampuan untuk mulai melakukan riset di bidang reactor nuklir. Kedepan, sy fikir komunitas seperti Kommun (atau juga HIMNI) harusnya merupakan kumpulan dari klaster2 yang memang memiliki aktifitas riset, sehingga obrolan mereka adalah tentang progres riset mereka dan kemungkinan kolaborasi.

Naah, akhirnya terlaksana lah workshop tentang desain teras Pebble Bed Reactor (PBR) pake code PEBBED6, sbgm diiklankan dalam flyer acara. Workshop ini juga sekalian menguji system Lab. Komputasi PTKRN yang baru beberapa hari di launching, khususnya system untuk melakukan eksekusi software yang ada di Labkom PTKRN secara online tanpa perlu mengakses software tersebut. Sistem semacam ini sangat diperlukan untuk sosialisasi dan training software-software tentang reactor nuklir karena kebanyakan software tersebut memang kita tidak diizinka

workshop-pebbed6_ugm

Posted by: tsdipura | November 20, 2016

I think we can build this….ourselves!

ElonMusk_coverMasuk area boarding di Terminal 3 Bandara Soetta sy mampir ke jongko buku…liat2 sekilas ternyata ada buku yang sangat menarik banget, dengan gambar tokoh yg menjadi sumber cerita di sampul halaman, yap foto Om Elon Musk. Sy liat sekilas…deal sy beli bukunya…klo gak salah sekitar 180rb rupiah. Dan jadilah Elon Musk temen (baru) virtual sy melalui buku selama perjalanan ke tiongkok ini.

Sejak pertama kali sy denger kiprah Elon Musk dengan SpaceX dan Tesla plus sedikit info personal ttg doi…EM sdh masuk didaftar role model sy.

Seingat sy, potongan cerita yang paling menarik dr kisah Elon terjadi di 2001 di awal beliau merintis SpaceX atau lebih umum untuk mulai membumikan idenya ‘manusia pindah ke Mars’. Hmm..taun itu sy lagi asyik kuliah tahun ketiga di fisika itb. Oh ya, salah satu yg membuat somehow Elon menarik bg sy juga karena Elon sama2 kuliah Physics. Elon dpt gelar sarjana fisika dari PennState.

Ok, kembali ke kisah di 2001. Sebagai langkah awal Elon perlu roket, setelah jual PayPal dia punya sekitar 20 juta dollar. Elon dan tim sempat shoping around ke Paris (ArianSpace) tp modalnya gak cukup, alternatif akhir adalah membeli Inter Continental Ballistic Missile (ICBM) dari Rusia. Akhirnya Elon ditemenin oleh 3 rekannya pergi ke Rusia…obrol2 sebelumnya Elon mungkin bs dapat 3 ICBM (bekas) dengan harga sekitar 20juta dollar. Satu diantara rekannya adalah Adeo Ressi, sobat Elon sejak kuliah dan berperan sebagai konsultan pribadinya. Rekan lainnya Jim Cantrell memang seorang begawan di bidang per-roket-an plus juga sering berhubungan dengan UniSoviet, dan katanya lancar bahasa Rusia. Nyampe di Rusia…ternyata Elon dkk mendapat perlakuan yang terkesan merendahkan seakan Elon dkk tidak punya duit untuk beli. Tawaran mereka sekarang 8juta dollar untuk satu ICBM, Elon nawar 8jt dollar tapi dua biji…orang Rusia malah semakin melecehkan dengan bilang ‘Young boy, No.’

Elon langsung menyudahi pertemuan dan langsung menuju bandara untuk pulang (hmm tentu temen2nya ikut yaa). Di buku itu, Jim Cantrel cerita bagaimana mereka ahanya saling terdiam sepanjang perjalanan, bahkan ketika di pesawat mereka baru bicara ketika minuman dihidangkan…sedangkan Elon masih di baris depan bermain-main dengan laptopnya.

Tidak lama, Elon berbalik ke temen2nya dan bilang “Hey guys, I think we can build this rocket ourselves”. Sambil Elon nunjukin spreadsheet itung2an tentang bagaimana bisa bangun roket.

Cantrell yg sudah lama malang melintang di dunia per-roket-an, dan sudah sering melihat milyarder ngabisin duit untuk bs bikin roket namun akhirnya gagal…awalnya sangat ragu dengan perkataan Elon diatas. Namun, terhadap spreadsheet yang disuguhkan Elon…Cantrell tetap kagum dan tidak menyangkan Elon bs menyusun spreadsheet selengkap itu. Elon seakan telah bikin guidebook untuk bikin roket, lebih tepatnya ‘bikin roket dengan lebih murah’.

Sebelum momen diatas, memang Elon menghabiskan banyak waktu mengunyah buku2 tentang roket, misalnya Rocket Propulsion Element, Fundamental of Astrodynamics, Aerothermodynamics of Gas Turbine and Rocket Propulsion…dan banyak buku lain.

Nah, itulah momen yg bagi sy sangat mengesankan dr kisah Elon. Tentunya momen itu menjadi berkesan krn bukan omong kosong tanpa isi. Omongan itu…berisi dari sisi visi juga dr sisi arahan how to nya. Meskipun dalam kisah2 selanjutnya banyak hal2 yang orang lain akan berhenti dan bs jadi good reason bg Elon untuk berhenti, tp Elon tetep maju dengan cita2nya.

Kisah inipun bg sy makin menarik, krn sy baca disaat sy (dan tim) sedang berusaha memahami sebuah sistem teknik yang lumayan komplek…yaitu reaktor nuklir, khususnya HTR-10 yang telah sukses dibangun oleh Tiongkok. ok, ngomong2 Rusia, merekapun menawarkan diri untuk bs bangunin reaktor serupa di Indonesia.

Apa bs suatu saat sy juga bilang, ‘Hey…kayaknya kita bs bangun sendiri reaktor nuklir kita.’ tentu dengan data dukung yang meyakinkan.

 

 

Posted by: tsdipura | October 13, 2016

Desain, Konstruksi, Operasi, dan Perawatan HTGR

Yap begitulah judul kegiatan training kali ini Desain, Konstruksi, Operasi, dan Perawatan HTGR. Kegiatan yang didanai melalui Program Riset-PRO Kemenristekdikti tahun 2016 ini. Berikut beberapa hal yang kita sampaikan dalam proposal kegiatan ini:

Tujuan Kunjungan Riset

  1. Memperoleh pengalaman proyek dan mengamati secara langsung pelaksanaan proye pembangungan reactor tipe Pebble Bed Reactor (PBR).
  2. Mempelajari aspek desain, kontruksi, operasi dan perawatan reactor tipe PBR secara langsung pada HTR-10.
  3. Mempelajari proses perizinan HTR-10 untuk setiap tahap desain, kontruksi, dan operasi terutama dari aspek manajemen proyek.

Dampak dan Tindak Lanjut Kunjungan Riset

  1. Meningkatkan pemahaman terhadap desain proses konstruksi, operasi dan perawatan reactor tipe HTGR khususnya PBR dengan melihat langsung reactor HTR-10 juga pembangunan reactor HTR-PM yang sedang berlangsung.
  2. Meningkatnya pemahaman terhadap proses perizinan mulai dari desain, konstruksi, operasi dan perawatan untuk reactor tipe HTGR.
  3. Meningkatnya kemampuan melakukan pendampingan dan pengawasan fase EPC pada Program RDE, termasuk proses perizinan yang diperlukan.
  4. Semakin kuat dan meluasnya jejaring dan kolaborasi riset dan pengembangan BATAN dengan pusat-pusat keunggulan dunia khususnya di bidang desain PBR.

 

Posted by: tsdipura | September 24, 2016

Administratif RisetPro sebulan di tiongkok

Beberapa dokumen ini diperlukan untuk keperluan administrative Riset-Pro, selain dari internal kita sendiri mengajukan proposal kegiatannya.

Pihak CNEC akhirnya menyetujui kegiatan ini dengan mengirimkan Lettef of Acceptance.

Dan setelah komunikasi bolak-balik tentang jadwal kegiatan di sana,akhirnya disepakati sesuai jadwal training berikut.

 

Posted by: tsdipura | September 19, 2016

Nyantri kilat ke Mbah Verfondern

Pekan kedua september ini, tepatnya 5-9 september 2016, sy dan rekan lain dari PTKRN ikutan Workshop HTGR Fuel and Fuel Cycles Technologies yang digelar Pusdiklat BATAN kerjasama dengan IAEA, juga Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) BATAN sebagai tuan rumah dan panitia kegiatan.

Workshop ini menarik karena menghadirkan narasumber dr Julich, bahkan salah  satu Mbah yang terlibat dengan pengembangan HTGR disana sejak 80-an, yaitu Pak Dr. Karl Clemens Verfondern. Dalam sepekan itu beliau menjadi pembicara tunggal dengan rentetan presentasinya plus cecaran pertanyaan dari kami yang beliau jawab dengan tenang dan santai bermodalkan pengalaman langsung beliau di bidang ini.Beliau banyak ngasih informasi proyek dan fasilitas riset Jerman terkait HTGR, salah satunya fasilitas untuk uji kogenerasi bernama Eva-Adam berikut

eva-adam_cogeneration Read More…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories